
RMNEWS – Kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai diberlakukan kembali di beberapa sekolah, setelah adanya lonjakan kasus Covid-19. Namun Pemerintah berwacana untuk tetap melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), walaupun tidak 100%.
Melihat peristiwa ini, Komisioner Komisi Perlindungan Anak (KPAI), Retno Listyarti, mengatakan bahwa KPAI sudah melakukan pemantauan PTM sejak 3 Januari.
Ia mengakui beberapa hari setelahnya sudah ditemukan kasus penularan, karena kegiatan PTM 100% membuat tidak ada jarak dalam ruangan tertutup dan menjadikan sumber penularan virus.
“Kalau sekolah tidak menjadi sumber penularan, tapi anak di luar yang tertular kemudian dia datang ke sekolah, nah itu yang berpotensi menularkan ke anak lain” Ujar Retno dalam Trijaya Hot Topic Petang, Kamis (10/02/2022).
Retno mengatakan, seminggu setelahnya ada 7 sekolah yang di tutup, dan satu bulan kemudian sudah ada 90 sekolah yang ditutup di daerah Jakarta. Ini menunjukkan bahwa situasi penularan pada masyarakat saat ini memang sedang tinggi. Retno mengakui, penularan yang terjadi di sekolah, merupakan penularan dari masyarakat.
Awal Januari lalu juga, KPAI sempat menghimbau kepada sekolah-sekolah di DKI Jakarta untuk tidak membuka pembelajaran tatap muka terlebih dahulu sebelum 14 hari. Tapi SKB mentukan sekolah untuk melaksanakan PTM karena pada saat itu masih diberlakukan PPKM Level 1.
Retno juga mengungkapkan, ketika penambahan kasus terus naik setiap minggu dua kali lipat, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, sempat meminta izin untuk memberhentikan kegiatan pembelajaran tatap muka selama satu bulan, sejak akhir Januari lalu atas masukan dari rapat dengan KPAI dan Ahli penyakit menular. Namun hal itu tidak diizinkan oleh Pemerintah pusat, dan hanya diberi diskresi sekolah bisa dibuka, namun hanya 50%.
“Sekarang surat edaran 50% mulai dibuat, menurut saya sebenarnya DKI Jakarta dengan 14.000 kasus, mestinya PTM nya dihentikan dulu sampai maret.” Pungkas Retno.
